Selalu tanyakan kenapa “hal ini” harus dikerjakan.


Pada pidatonya di Stanford University, Steve Jobs berkata “And the only way to do great work is to love what you do.”

Tapi tentu, tidak itu saja yang membuat hasil pekerjaan menjadi berkualitas. Salah satu poin yang bisa menambah kualitas pekerjaan adalah mengetahui kenapa “hal ini” harus dikerjakan.

Kenapa itu penting?

1. Karena, dengan mengetahui kenapa hal ini harus dikerjakan, akan mendorong kita untuk memikirkan solusi/cara yang lain yang lebih efektif. 
Simak percakapan antara Stakeholder dan Designer dibawah ini:

Stakeholder: Kita butuh menambahkan chart di dashboard, untuk menampilkan data penjualan harian dalam kurun waktu satu bulan terakhir. tolong kamu buat design nya.

Designer: Kenapa harus menambahkan chart di dashboard? , apa kebutuhannya?

Stakeholder: Karena klien kita ingin melihat secara cepat, apakah penjualan mereka selama satu bulan terakhir bagus atau tidak.


Designer: Apa parameter bagus atau tidaknya?.

Stakeholder: Kata mereka, minimal ada 20 hari yang penjualannya mencapai target.

Designer: kalau begitu, dibanding menambahkan chart yang akan membuat dashboard terlihat penuh, lalu mereka harus melihat chartnya, dan juga mereka harus manual menghitung sendiri jumlah hari yang mencapai target. Kenapa tidak kita saja yang menghitungkan secara otomatis apakah selama 1 bulan terakhir ini ada 20 hari yang penjualannya mencapai target.

Dan jika dalam 1 bulan terakhir terdapat 20 hari yang penjualannya mencapai target, yang kita tampilkan di dashboard hanya berupa kalimat “Dalam 1 bulan terakhir, penjualan anda mencapai target. (Klik disini untuk melihat detail penjualan)”. Simple dan secara cepat klien bisa mengetahui apakah penjualan 1 bulan terakhir bagus atau tidak. 

note: Percakapan diatas hanya penggambaran pentingnya mengetahui alasan kenapa “ini” harus dikerjakan.

2. Karena, dengan mengetahui kenapa hal ini harus dikerjakan, akan mendorong kita untuk berupaya lebih saat mengerjakannya.
Coba perhatikan dua kalimat perintah dibawah ini:

Kalimat 1: “Tolong kamu belikan perban di toko seberang ya”

Kalimat 2: “Tolong kamu belikan perban di toko seberang ya, adikmu jatuh saat naik motor dan lukanya lumayan banyak” 

Dengan kalimat 2, tentu kita akan berupaya secepat mungkin untuk membeli perban, karena ada adik yang sedang terluka. Bahkan mungkin jika di toko seberang perbannya habis, kita akan mencari ke toko lain. 


Sebagai designer, tentu kita akan berupaya ekstra dalam mengerjakan task jika mengetahui impact apa saja yang akan kita timbulkan saat pekerjaan kita selesai.

Mengetahui siapa saja yang akan terbantu, mengetahui bahwa hasil pekerjaan kita akan mempermudah hidup orang lain tentu akan membuat kita berusaha sebaik mungkin dalam mengerjakannya.


Sebagai designer, bertanya sudah harus menjadi habit. Jadi jangan takut untuk bertanya, biasakanlah mulai sekarang untuk lebih sering bertanya. Terutama bertanya kenapa hal ini harus dikerjakan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku-Buku Design yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia